Seorang anak laki-laki, yang baru kelas 5 sekolah dasar, di SD AL-Hikmah Surabaya, memiliki semangat luar biasa prima untuk menjadi seorang pebisnis. Dia bernama RAFIDH RABBANI, menyebut dirinya sebagai Pebisnis Cilik.
Sebutan Pebisnis Cilik ini memang dia buktikan di aktivitas sehari-harinya, khususnya pada saat di sekolah yang menerapkan full day school ini. Dia, disela-sela waktu istirahat atau jedah pelajaran, selalu melakukan bisnis dengan menawarkan produk yang di create nya sendiri, seperti print-out gambar-gambar kartun jagoan yang ada di website hasil browsing…kemudian gambar tersebut dia tawarkan ke teman-teman satu kelasnya bahkan di kelas lainnya juga…gambar itu dijual per bijinya Rp. 1000,- sampai Rp.2000,-
Luar biasanya, setiap harinya, selalu saja ada teman yang membeli gambar-gambar print-out tersebut. Dan dia mengaku setiap hari bisa memperoleh omzet dari jualan itu antara Rp.10.000,- sampai dengan Rp.60.000,- Benar-benar Luar Biasa Prima, si Pebisnis Cilik ini, yang juga memiliki blog di sini.
Sangat menyenangkan melakukan wawancara dengan Pebisnis Cilik, Rafidh Rabbani ini. “Saya ingin jadi Pebisnis Sukses seperti Ayahku,” katanya menutup wawancara singkat ini.


(6 votes, average: 4.67 out of 5)
Search




Comments
Wow! Makasih atas kunjungannya……
Setelah berputar2 dikit, akhirnya sampai di sini juga akhirnya… hihihihih……..
Hm, makasih atas support dan doanya, dan sepertinya saya dapati bahwa diri saya masih perlu banyak belajar dari orang-orang seperti pak Wuryanano ini.
Mengenai bocah di atas, saya sampai iri……. hihihihhi…. hebat bener dia memutar ide untuk mendapat uang dengan cara seperti itu. Fiuh… huebat!
Saya kadang jadi malu jika seperti itu… hihihihi, di usia seperti ini, belum bisa bikin apa-apa sih……
Hahaha…
Persis saya dulu waktu SD..
Saya jual gambar2 dari hasil gunting2 majalah…
Hahahaa….
Salut!
Memang generasi muda harus didorong terus untuk mau dan berani bercita-cita menjadi pengusaha..
http://www.1001Peluang-Bisnis.blogspot.com
Ada sekolah yang melarang kegiatan seperti ini. Alasannya anak-anak yang membeli jadi konsumtif. Sayang sekali, …. bakat bisnis seperti ini justru dimatikan oleh sekolah.
You must be logged in to post a comment.