Wirausaha Sukses Mandiri

Motivational and Inspirational

 - 

Join now: 

Register

 | 

Login

logo

Warisan Leluhur: WAYANG dan KERIS

Warisan Leluhur: WAYANG dan KERIS

Wayang dan Keris merupakan warisan leluhur nusantara, yang mampu bertahan dan berkembang selama berabad-abad. Keduanya mengalami perubahan dan perkembangan sampai mencapai bentuknya sekarang ini. Kedua jenis warisan budaya ini telah diakui dunia (UNESCO). Wayang dan Keris telah ada sebelum agama Hindu & Budha menyebar di Asia Selatan.

Diperkirakan seni wayang dan keris dibawa masuk oleh para pedagang India dan Vietnam. Namun, kejeniusan lokal dan kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu Budha terpengaruh oleh seni budaya dari mancanegara, yang masuk dan memberi warna tersendiri pada seni budaya di Indonesia.

Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan Wayang, berasal dari Prasasti Balitung pada Abad ke 4 yang berbunyi : “si galigi mawayang.”

Demikian juga kata “Kris” sudah tertulis dalam beberapa prasasti.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni budaya ini menjadi media efektif penyebaran agama Hindu.

Pertunjukan Wayang menggunakan kisah dalam cerita Ramayana dan Mahabharata.

Wayang dan Keris berkembang, karena menjadi hiburan dan senjata piyandel (mengandung makna supranatural dan spiritual), yang digemari oleh masyarakat nusantara pada saat itu.

keris-surakarta

Selain itu juga mempunyai peranan sebagai alat pendidikan serta komunikasi langsung antara pemimpin, tokoh masyarakat, empu keris dengan warga masyarakatnya.

Pewayangan dan perkerisan mempunyai peran cukup besar dalam pendidikan budaya di Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Di pulau Bali, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu Sanata Dharma, seni wayang dan keris masih lestari.

Sebetulnya wayang dan keris sendiri, awalnya merupakan peninggalan jaman Kerajaan Hindu dan Budha, dan pada jaman Agama Islam masuk di Nusantara, para Wali Songo tetap melestarikannya, namun diubah cara pandang dan pemaknaannya. Keduanya menjadi sarana mendidik masyarakat, yang kala itu sudah mulai merosot spiritualismenya.

Para mubaligh mampu merangkul masyarakat nusantara dengan tetap berpegang pada kearifan lokal. Mereka sadar bahwa pertunjukan wayang dan budaya keris, telah berakar kuat di masyarakat dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja.

Maka para Wali, termasuk Sunan Kalijaga pun mencapai kesimpulan untuk menyempurnakan seni wayang dan keris, lalu diisi dengan nilai-nilai budi pekerti luhur yang bernafaskan keIslaman.

Salah satu cara jitu untuk mengambil hati masyarakat adalah dengan mempersonifikasikan atau memanusiakan tokoh-tokoh “Pandawa Lima” dalam cerita Mahabharata dari India, yang dikaitkan dengan Rukun Islam.

    • Puntadewa dilambangkan sebagai Syahadat.
    • Bima atau Bayuputra sebagai Shalat.
    • Arjuna atau Janoko sebagai Puasa.
    • Nakula-Sadewa sebagai Zakat dan Haji.

Wallahu a’lam bishshawab.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

Twitter: @Wuryanano

Comments

Comments are disallowed for this post.

Type in your comments to post to the forum
Name  required
E-Mail  required
Website

Comments


You must be logged in to post a
video comment.

Search

Video