Wirausaha Sukses Mandiri

Motivational and Inspirational

 - 

Join now: 

Register

 | 

Login

logo

Tidak Ada KRITIK MEMBANGUN

Tidak Ada KRITIK MEMBANGUN
Adakah Kritik Membangun?

Seorang Sahabat Bertutur tentang pengalaman hidupnya.

Saya dulu sering  mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya bahwa saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.

Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain?

Karena saat itu saya percaya, dan banyak orang percaya bahwa Kritik itu Membangun.

Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa-apa mengkritik, asalkan itu Kritik Membangun.

Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku Wisdom mengatakan bahwa Sesungguhnya TIDAK ADA Kritik yang MEMBANGUN!

Semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.

Sampai suatu ketika saya membaca buku Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi yang diletakkan di dalam Toples yang berbeda.


Toples Pertama setiap hari diberikan kritikan terus dan ditempeli kertas bertulisan kata-kata yang mengkritik.


Toples Kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.


Dan hasilnya dalam 2 minggu, nasi di toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman; sedangkan nasi di toples kedua masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya saya meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan percobaan ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.

Nasi di toples yang setiap hari diberikan kritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk.

Oleh sebab itu, di sekolah, kami mengajarkan para siswa melalui percobaan ini agar tidak mengejek, menghujat atau mengkritik teman. Dan melatih mereka untuk bicara baik-baik, yang tidak mengkritik.


Sejak itulah saya belajar untuk tidak mengkritik orang lain, terutama anak-anak dan istri saya.

Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan. Istri saya jadi jauh lebih perhatian, wajahnya lebih berbinar, dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.


Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak-anak dan istri saya berubah?

Saya ganti kalimat saya yang mengkritik istri dan anak-anak saya, dengan ucapan terima kasih kepadanya, setiap kali mereka berbuat kebaikan.

Saya berterimakasih pada istri dan anak-anak saya, memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.

Yuk mari kita renungkan, kalau perlu kita coba melakukan yang sama bersama anak-anak di rumah atau murid-murid kita di sekolah.

Jadi…

Masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN?


Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?


Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama suami, istri dan anak-anak kita..?


Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas, berikut konsekuensinya masing-masing.

Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain, akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita…?

Dan coba rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah, juga dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.


Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

Twitter: @Wuryanano

Comments

Comments are disallowed for this post.

Type in your comments to post to the forum
Name  required
E-Mail  required
Website

Comments


You must be logged in to post a
video comment.

Search

Video