Wirausaha Sukses Mandiri

Motivational and Inspirational

 - 

Join now: 

Register

 | 

Login

logo

Syarat Layak Menjadi IMAM SHOLAT

Syarat Layak Menjadi IMAM SHOLAT
10 Syarat Jadi IMAM SHOLAT

Saya sekedar mengingatkan kita semua sebagai orang Islam, agar senantiasa mengikuti petunjuk Rasulullah yang telah disampaikan oleh para Ulama, apa saja syarat untuk layak menjadi imam sholat.

Syarat-syarat sah seseorang untuk menjadi Imam Sholat :

1. Islam.

Tidak sah sholat yang diimamkan oleh seseorang yang kafir.

2. Berakal.

Tidak sah sholat yang diimamkan oleh seseorang yang gila. Ini karena sholat yang dilakukan oleh orang gila tersebut tidak sah.

3. Baligh.

Tidak sah sholat yang diimamkan seseorang mumayyiz kepada seorang yang baligh di dalam sholat wajib dan sunnah. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud. “Janganlah diimamkan sholat itu oleh seorang kanak-kanak sehingga dia baligh.”

Ini karena sholat itu harus dalam keadaan sempurna, sedangkan kanak-kanak itu bukan ahli yang sempurna.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:
“Janganlah kamu majukan (jadikan imam) anak-anak kecil di antara kalian.” (HR. Ad-Dailami)..

4. Lelaki sejati.

Imam disyaratkan lelaki, adil dan faqih. Jika sekiranya yang menjadi makmum itu lelaki dan perempuan.

Seorang wanita tidak sah bila menjadi imam sholat buat lelaki menurut jumhurul ulama. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Dan tempatkan mereka di belakang sebagaimana Allah SWT menempatkan mereka.” Dan juga berdasarkan hadits dari Jabir yang hukumnya marfu’, “Janganlah seorang wanita menjadi imam buat laki-laki.”

Tidak sah sholat yang diimamkan oleh seorang perempuan bagi makmum lelaki. Sekiranya yang menjadi makmum itu perempuan semata-mata, maka tidak disyaratkan lelaki menjadi imam bagi jamaah perempuan tersebut.

5. Bersih dari hadats dan kotoran.

Tidak sah menjadi imam yang berhadats atau orang yang terdapat najis pada badannya, dan pakaiannya, baik dia mengetahui hal tersebut atau pun lupa.

6. Baik bacaannya dan mengetahui rukun-rukunnya.

Seseorang imam hendaklah baik bacaannya karena sholat tidak sah melainkan dengan bacaan yang benar dan mengetahui rukun-rukun sholat.

Dari Abu Masna Al-Badri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jama’ah di imami oleh yang lebih pandai membaca Kitab Allah. Jika sama-sama pandai dalam membaca Kitab Allah, maka oleh yang lebih alim tentang sunnah. Jika sama-sama pula, maka oleh yang lebih tua.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Tidak sah seseorang qari menjadi makmum kepada seseorang yang buta huruf, dan wajib bagi qari mengulangi sholatnya. Sebagaimana keadaannya tidak boleh menjadi makmum kepada seseorang yang tidak mampu rukuk, sujud atau tidak bisa duduk atau pun tidak mampu menghadap kiblat.

Dari Abi Martsad Al-ghanawi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Rahasia diterimanya shalat kamu adalah yang jadi imam (seharusnya) ulama di antara kalian. Karena para ulama itu merupakan wakil kalian kepada Tuhan kalian.” (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jadikanlah orang-orang yang terpilih di antara kamu sebagai imam; karena mereka adalah orang-orang perantaraan kamu dengan Tuhanmu.” (HR. Ad-Daruqutni).
“Apabila seseorang menjadi imam …, padahal di belakangnya ada orang-orang yang lebih utama daripadanya, maka mereka semua dalam kerendahan terus menerus.” (HR. Ahmad).

7. Keadaan yang bukan makmum.

Tidak sah sholat makmum mengikut makmum lain sebagai imam. Mengikut seseorang yang sudah terputus dengan imamnya disebabkan masbuq :

i- Al-Hanafiah: tidak harus menjadi seseorang masbuq itu sebagai ikutan karena dia telah mengikut (makmum). Oleh yang demikian, yang diikut tidak boleh diikuti.

ii- Al-Malikiah: tidak harus menjadikan seseorang yang masbuq itu sebagai ikutan karena dia tadi mengikut (makmum). Namun adapun yang mudrik (tidak sempat rakaat bersama imam boleh diikuti apabila dia bangkit untuk menunaikan sholatnya dan hendaklah mudrik yang tidak sempat rakaat tadi berniat menjadi imam. Karena ketika itu dia sedang sholat sendirian dan tidak thabit hukum makmum.

iii- Al-Syafieyyah: terputus ikutan / menurut imam dengan semata-mata keluarnya imam dari sholat setelah memberi salam atau dengan sebab batalnya wudlu. Ini karena putusnya ikatan di antara imam dan makmum, maka pada saat itu dia boleh mengikuti orang lain yang ganti imam atau orang lain yang mengikutnya sebagai imam.

8. Selamat dari Uzur.

Orang yang menjadi imam bukanlah orang yang dalam keadaan uzur.

Tidak ada uzur / halangan. Seperti luka yang darahnya masih mengalir, atau penyakit mudah keluar kencing (salasil baul), mudah buang angin (kentut). Sebab orang yang menderita hal-hal seperti di atas pada hakikatnya tidak memenuhi syarat suci dari hadats kecuali karena ada sifat kedaruratan saja.

Sekiranya seseorang mempunyai satu keuzuran adalah lebih utama menjadi imam daripada orang yang mempunyai dua keuzuran.

Adapun pendapat al-Malikiah tidak mensyaratkan ini tetapi dihukum makruh menjadi imam selagi tidak batal wudlunya.

Begitu juga pendapat bagi al-Syafieyyah tidak mensyaratkan ini dan sah menjadi imam orang yang mempunyai keuzuran ini dan tidak perlu mengulangi sholat tersebut.

9. Imam mesti seorang yang fasih al-lisan.

Mampu dan fasih menyebut huruf-huruf di dalam al-Quran secara benar dari makhrajnya.

Mampu membaca Al-Quran dengan fasih. Syarat ini berlaku manakala ada di antara makmum yang fasih membaca Al-Quran. Maka seharusnya yang menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya. Sebab imam itu harus menanggung bacaan dari para makmum, sehingga bila bacaan imam rusak atau cacat, maka cacatlah seluruhnya.

10. Al-Hanafiah dan Al-Syafieyyah mensyaratkan supaya sholat itu diimamkan oleh orang yang bermazhab sama dengan makmum.

Sekiranya seseorang bermazhab Hanafi sholat di belakang seorang imam bermazhab Syafie yang ada luka mengalirkan darah pada tubuhnya dan tidak berwudlu selepas itu atau sholat seorang yang bermazhab Syafie di belakang seseorang bermazhab Hanafi yang menyentuh perempuan dan tidak berwudlu, maka sholat makmum itu batal, karena setiap mazhab melihat kepada batalnya sholat imam itu tadi.

Al-Hanafiah berpendapat, sholat di belakang imam yang bermazhab Syafie adalah makruh.

Wallahu a’lam bish shawab.

Salam Luar Biasa Prima!

Wuryanano

Owner SWASTIKA PRIMA Entrepreneur College

Twitter: @Wuryanano

Comments

Comments are disallowed for this post.

Type in your comments to post to the forum
Name  required
E-Mail  required
Website

Comments


You must be logged in to post a
video comment.

Search

Video